MENGAMATI
LINGKUNGAN BUDIDAYA PERAIRAN
DESA BENANGA KELURAHAN SEMPAJA
SAMARINDA
LAPORAN
Oleh:
|
Earnest
Sandova Tri Yolina
|
|
Suci Rahmawati
|
|
Darma Kusuma
|
|
Didik Dwi
Jayanto
|
|
Ahmad Saiful
|
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur praktikan ucapkan atas kehadirat Allah
SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga laporan Praktikum
Lingkungan Akuakultur ini dapat terselesaikan. Tak lupa ucapan terima kasih
yang mendalam kepada dosen mata kuliah Lingkungan Akuakultur yang telah
berkenan memberikan ilmu kepada praktikan dan membimbing kegiatan praktikum
yang telah terlaksana di Desa Benanga.
Dalam penyusunan laporan ini, praktikan berusaha
semaksimal mungkin untuk menyajikan yang terbaik, namun praktikan menyadari
masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan, Praktikan mengharapan saran dan masukan dari pembaca
untuk kesempurnaan pembuatan laporan yang akan dating. Semoga laporan ini dapat
memberi nilai tambah dalam informasi dan bermanfaat bagi yang membutuhkan.
|
Samarinda,
Desember 2015
|
|
Praktikan
|
|
DAFTAR ISI
|
||
|
|
Halaman
|
|
|
COVER
|
………………………………………………....
|
i
|
|
KATA PENGANTAR
|
…………………………………………………
|
ii
|
|
DAFTAR ISI
|
…………………………………………………
|
iii
|
|
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
|
…………………………………………………
|
iv
|
|
BAB I PENDAHULUAN
|
…………………………………………………
|
1
|
|
A. Latar
Belakang
|
…………………………………………………
|
1
|
|
B. Tinjauan
Praktikum
|
…………………………………………………
|
1
|
|
C. Rumusan
Masalah
|
…………………………………………………
|
2
|
|
D. Manfaat
Praktikum
|
…………………………………………………
|
2
|
|
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
…………………………………………………
|
3
|
|
A. Lingkungan
|
…………………………………………………
|
3
|
|
B. Lingkungan
Budidaya
|
…………………………………………………
|
3
|
|
C. Sifat-sifat
Perairan
|
…………………………………………………
|
4
|
|
BAB III METODE PRAKTIKUM
|
…………………………………………………
|
8
|
|
A. Waktu
dan Tempat
|
…………………………………………………
|
8
|
|
B. Alat
dan Bahan
|
…………………………………………………
|
8
|
|
C. Prosedur
Praktikum
|
…………………………………………………
|
9
|
|
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
|
……………………………………………........
|
11
|
|
A. Keadaan
Lokasi Praktikum
|
…………………………………………………
|
11
|
|
B. PH,
Suhu, Kecerahan, Salinitas
|
…………………………………………………
|
12
|
|
C. Kadar
CO2
|
…………………………………………………
|
13
|
|
D. Kadar
DO
|
…………………………………………………
|
13
|
|
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
|
…………………………………………………
|
15
|
|
A. Kesimpulan
|
…………………………………………………
|
15
|
|
B. Saran
|
…………………………………………………
|
15
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
…………………………………………………
|
16
|
|
LAMPIRAN
|
…………………………………………………
|
17
|
|
DAFTAR
GAMBAR DAN TABEL
|
||
|
|
Halaman
|
|
|
Gambar
1. Pengarahan Praktikum
|
………………………………
|
17
|
|
Gambar
2. Mendeskripsikan dan Menganalisis Lingkungan
|
………………………………
|
17
|
|
Gambar
3. Mengukur PH dan Suhu
|
………………………………
|
18
|
|
Gambar
4. Mengukur Kecerahan
|
………………………………
|
18
|
|
Gambar
5. Mengukur CO2
|
………………………………
|
19
|
|
Gambar
6. Mengukur DO
|
………………………………
|
19
|
|
Tabel
1. Hasil pengamatan pengukuran PH, Suhu, Kecerahan, dan Salinitas
|
………………………………
|
12
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Budidaya perikanan merupakan usaha pemeliharaan dan
pengembang biakan ikan atau organisme air lainnya. Budidaya perikanan disebut
juga sebagai budidaya perairan atau akuakultur. Mengingat organisme air yang
dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja tetapi juga organisme air
lainnya seperti kerang, udang maupun tumbuhan air.
Akuakultur merupakan suatu proses pembiakan organisme
perairan dari mulai proses produksi, penanganan hasil sampai pemasaran
(Wheaton,1977). Dalam kegiatan akuakultur, lingkungan merupakan indikator yang
sangat penting untuk mengukur keberhasilan pada organisme akuatik yang sedang
dibudidayakan. Akan tetapi masih banyak pembudidaya di indonesia yang kurang
memperhatikan tata lingkungan pada kegiatan akuakultur.
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kegiatan akuakultur
diantaranya ialah faktor fisika, kimia, dan biologi, jika lingkungan mengalami
kerusakan atau terjadi ketidakseimbangan maka organisme yang dibudidayakan
tidak dapat memberikan hasil yang maksimal dan memiliki nilai ekonomis yang
rendah. Oleh karenanya pada praktikum yang telah terlaksana, praktikan
mengamati dari sisi lingkungan yang digunakan untuk pembudidayaan ikan didaerah
kampung Benanga Kelurahan Sempaja Samarinda.
B. Tinjauan Praktikum
Berdasarkan latar belakang masalah, maka pada pelaksanaan
pada praktikum ini, praktikan mengamati lokasi sekitar, lokasi budidaya,
kegiatan budidaya, kegiatan lingkungan yang berhubungan dengan budidaya, dan
mengambil informasi terkait dengan pengukuran suhu, PH, O2,
kecerahan, dan salinitas air yang digunakan untuk kegiatan budidaya dengan
mengambil sampel air dilingkungan kegiatan budidaya.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang dan Tinjauan Praktikum yang telah di bahas diatas, maka dirumuskan sebagai
berikut:
Bagaimana
kondisi lingkungan budidaya di kampung Benanga Kelurahan Sempaja Samarinda?
D. Manfaat
Praktikum
Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberikan manfaat
yaitu sebagai berikut:
1.
Sebagai
informasi terkait lingkungan budidaya di
Kampung Benanga Kelurahan Sempaja Samarinda.
2.
Mengenal
lingkungan budidaya yang ada di kampung Benanga Kelurahan Sempaja Samarinda.
3.
Sebagai
syarat kelulusan perkuliahan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Mata
Kuliah Lingkungan Akuakultur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lingkungan
Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua
benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain.(Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1997)
Dalam lingkungan
hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan
kesatuan utuh menyeluruh dan saling memprngaruhi dalam membentuk keseimbangan,
stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Otto Soemarwoto mengemukakan bahwa dalam bahasa inggris istilah
lingkungan adalah environment. Selanjutnya dikatakan lingkungan atau lingkungan
hidup merupakan segala sesuatu yang ada pada setiap makhluk hidup atau
organisme dan berpengaruh pada kehidupannya. Contoh pada hewan seperti kucing,
segala sesuatu di sekeliling kucing dan berpengaruh pada keberlangsungan hidup
kucing tersebut maka itulah lingkungan hidupnya. Demikian pula pada suatu jenis
tumbuhan tertentu, misalnya pohon mangga atau padi di sawah, segala sesuatu
yang mempengaruhi pertumbuhan atau kehidupan tanaman tersebut itulah lingkungan
hidupnya.
B.
Lingkungan Budidaya
Usaha perikanan dalam
bidang budidaya harus memperhatikan lingkungan dan menjaga keseimbangan
lingkungan karena lingkungan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam
budidaya. “Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti sangat perhatian
sekali dengan permasalahan lingkungan ini. Karena ini akan menjadi warisan ke
anak cucu kita di masa depan. Dengan membangun perikanan budidaya yang
berwawasan lingkungan saat ini, artinya kita juga sedang membangun masa depan” Slamet Dalam perjanjian
kerjasama dengan World Wide Foundation (WWF)
Lingkungan akuakultur
merupakan media yang digunakan untuk seluruh ekosistem budidaya akuatik dan
sebagai tempat hidup organisme (tumbuh dan bereproduksi). Lingkungan budidaya
dapat mengalami tekanan/gangguan karena adanya bahan pencemar yang mencemari lingkungan
budidaya tersebut. Bahan pencemar ada yang bersifat toksik dan non toksik.
Pencemar sendiri adalah masuknya/dimasukkannya zat, energi, bahan kimia ke
dalam suatu lingkungan perairan akibat ulah manusia atau karena bencana alam
yang menyebabkan lingkungan tersebut menjadi berubah peruntukannya.
Pencemar toksik dapat
berupa bahan kimia beracun, limgkngan yang ekstrim, limbah dari aktivitas
manusia (antropogenik). Sedangkan pencemar non toksik berupa peningkatan unsur
hara, parasit dan penyakit, hama. Pada lingkungan budidaya terdapat tiga
lingkungan perairan yaitu: perairan tawar, perairan payau dan perairan laut.
C. Sifat-sifat
Perairan
Sifat pada limgkungan perairan meliputi sifat kimia dan
fisika. Sifat-sifat perairan tersebut sangat mempengaruhi kelangsungan hidup
organisme yang sedang dibudidayakan. Berikut adalah jenis-jenis sifat kimia dan
fisika pada perairan:
Sifat Kimia
1.
PH
PH merupakan singkatan dari (puisance negatif de H) pada
perairan perkolaman PH air mempunyai arti yang cukup penting untuk mendeteksi
potensi produktifitas kolam. PH air agak basa, dapat mendorong proses
pembongkaran bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat
diasimilasikan oleh tumbuh-tumbuhan (garam amonia dan nitrat). PH air pada
perairan yang tidak mengandung bahan organik dengan cukup, maka mineral dalam
air tidak ditemukan. Untuk menciptakan lingkungan air yang bagus, PH air it
sendiri harus mantap dulu (tidak banyak terjadi pergoncangan PH air).
Klasifikasi PH air dapat dikelompokka menjadi 3 yaitu:
Netral : PH air 7
Basa : 7<PH
air< 14
Asam : 0< PH
air < 7
2.
Oksigen
Terlarut (DO)
Semua Makhluk hidup sangat membutuhkan oksigen sebagai
faktor penting bagi pernapasan. Ikan merupakan salah satu jenis organisme
perairan yang juga membutuhkan oksigen agar proses metabolisme dalam tubuhnya
berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan oleh ikan disebut dengan oksigen terlarut.
Oksigen terlarut adalah oksigen dalam bentuk terlarut didalam air karena ikan
tidak dapat mengambil oksigen dalam perairan dari difusi langsung dengan udara.
3.
Karbon
Dioksida (CO2)
Karbondioksida merupakan salah satu parameter kimia yang
sangat menentukan dalam kegiatan budidaya ikan. Karbondioksida yang dianalisis
dalam kegiatan budidaya adalah karondioksida dalam bentuk gas yang terkandung
di dalam air. Gas CO2 memegang peranan penting sebagai unsur makanan
bagi semua tumbuhan yang memiliki klorofil, baik baik tumbuhan renik maupun
tingkat tinggi.
Sumber karbondioksida didalam air adalah hasil dari
pernapasan oleh binatang-binatang air dan tumbuhan-tumbuhan serta pembakaran
bahan organik didalam air oleh jasad renik. Pengaruh karbondioksida yang
terlalu banyak tidak saja terhadap pengaruh PH air, tetapi juga bersifat racun.
Dengan meningkatnya karbondioksida, maka O2 dalam air menurun,
sehingga pada level tertentu akan berbahaya bagi organisme perairan. Kadar
karbondioksida tidak boleh encapai batas mematikan, pada kadar 20 ppm sudah
merupakan racun bagi ikan dan akan mematikan ikan jika kurang dari 5 ppm.
Sifat
Fisika
1.
Suhu
Suhu air sangat penting bagi kehidupan ikan atau udang
karena suhu air berpengaruh terhadap kehidupan jasad renik (mikroorganisme)
yang menjadi makanan bagi ikan dan udang, sehingga dpat mempengaruhi kehidupan
ikan dan udang. Suhu ideal untuk budidaya adalah 25-310 C. Peranan
suhu terhadap ikan ialah untuk meningkatkan atau menurunkan laju metabolik,
mempengaruhi pemijahan atau penetasan telur, suhu yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah menyebabkan stres dan menyebabkan ikan lebih rentan terhadap
serangan penyakit, suhu berperan penting dalam proses-proses penyakit
infeksius, sebagian senyawa kimia lebih mudah larut dengan meningkatnya
temperatur dan sebaliknya O2 dan CO2 menjadi kurang larut.
2.
Warna
Air
Warna biasanya disebabkan leh keberadaan plankton,
ion-ion metal atau logam seperti besi (Fe) dan mangan (Mn), atau bahan-bahan
terlarut dan tersuspensi lainnya. Analisis warna air yang berkaitan dengan
dominasi jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi dan kualitas
udang/ikan yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini dapat diartikan bahwa
meskipun dominasi plankton diperairan tersebut merupakan jenis yang
menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang/ikan mengalami degradasi,
maka ada suatu masalah diperairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi
dan analisi penyebab masalah secara cermat dan akurat.
3.
Kecerahan
Kecerahan adalah ukuran transparansi perairan yang
diamati secara visual dengan alat bantu yang disebut secci disc. Keadaan cuaca,
kekeruhan air dan waktu pengamatan sangat berpengaruh
terhadap hasil pengukuran. Kecerahan dapat digunakan untuk menduga kepadatan
plankton bila kekeruhan perairan terutama disebabkan oleh plankton. Pengukuran
kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah antara pukul 09.00 – 15.00
dan matahari tidak tertutup oleh awan.
4.
Kekeruhan
Kekeruhan
adalah gambaran sifat optic air dari suatu perairan yang ditentukan berdasarkan
banyaknya sinar (cahaya) yang dipancarkan dan diserap oleh partikel-partikel
yang ada dalam air tersebut. Kekeruhan terutama dipengaruhi oleh bahan-bahan
tersuspensi seperti lumpur, pasir, bahan organic dan anorganik, plankton, serta
organisme mikroskopik lainnya. Secara langsung kekeruhan dapat mengganggu
proses pernapasan organisme perairan seperti menutupi insang ikan.
5.
Padatan
Terlarut Total (Total Dissolved Solid/TDS)
TDS
merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak tersaring dengan kertas
saring milliphore dengan ukuran pori-pori 0,45 µm. Bahan-bahan terlarut ini
dianalisa dengan cara menyaring air sampel dengan kertas saring tersebut
(menggunakan vacuum pump) kemudian air sampel yang tidak tersaring (lolos)
diuapkan dengan oven pada suhu 103 – 1050 C.
6.
Padatan
Tersuspensi Total (Total Suspended Solid/TSS)
TSS
merupakan bahan-bahan tersuspensi atau yang memiliki (diameter > 1 µm) dan tidak larut dalam
air. Bahan-bahan ini tertahan diatas kertas saring miliphore dengan ukuran
pori-pori 0,45µm. TSS terdiri dari lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad
renik, terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke
badan air.
7.
Daya
Hantar Listrik (HDL)
Daya
Hantar Listrik merupakan gambaran numeric dari kemampuan air untuk
menghantarkan arus listrik. Nilainya tergantung pada kandungan garam-garam
terlarut yang dapat terionisasi dari dalam air pada temperature saat pengukuran
dilakukan. Kereaktivan dari setiap ion yang terlarut, bilangan valensi dan
konsentrasinya sangat mempengaruhi nilai DHL.
8.
Salinitas
Salinitas
adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan atau dapat
dikatakan salinitas merupakan jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu
perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang
padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida,
semua bromide dan iodide digantikan oleh chloride dan semua bahan organic telah
dioksidasi. Satuan salinitas adalah per mil (‰)
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 27 November 2015.
Tempat diadakannya praktikum ini adalah kampung Benanga Kelurahan Sempaja
Samarinda.
B. Alat
dan Bahan
Mengukur PH, Suhu, Kecerahan dan Salinitas
Alat
1.
Parameter
PH(Mengukur PH dan Suhu)
2.
Secci
Disc (Mengukur Kecerahan)
3.
Refraktometer
(Mengukur Salinitas)
Bahan : Sampel air yang digunakan untuk
kegiatan budidaya
Mengukur Kadar CO2
Alat
1.
Gelas
ukur 50 ml berskala 0,1 ml
2.
Pipet
takar 1 ml berskala 0,01 ml
3.
Labu
erlenmeyer 250 ml
4.
Pro-pipet
Bahan
a.
Indikator
phenolphtalein (pp)
b.
Na2CO3
0,025 N
Mengukur DO
Alat
1.
Botol
Winkler 52 ml
2.
Labu
erlenmeyer 250 ml
3.
Pipet
Ukur 1 ml
4.
Gelas
ukur 50 ml
5.
Pro-pipet
6.
Pipet
Tetes
Bahan
1.
Reagen
1 (MnSO4)
2.
Reagen
2 (NaOH + KI)
3.
Reagen
3 (H2SO4 pekat)
4.
Reagen
4 (amylum)
5.
Na2S2O3
0,025 N
C. Prosedur
Praktikum
1. Mengukur
PH dan Suhu
a. Celupkan elektroda ke dalam contoh
uji sampai pH meter menunjukkan pembacaan yang tetap.
b. Catat hasil pembacaan skala atau
angka pada tampilan dari pH meter.
2. Kecerahan
a.
Celupkan
piringan Secci Disc ke dalam air
b.
Amati
hingga piringan hamper tidak terlihat
c.
Kemudian
ukur batas kedalaman air dari permukaan
d.
Catat
hasil pengukuran
3. Salinitas
a. Cairan yang akan ditetapkan indeks
biasnya diteteskan pada lensa prisma dengan pipet tetes.
b. Setelah terlihat adanya perbedaan terang dan
gelap, kemudian bacalah besarnya indeks bias pada angka yang ditunjukan oleh
skala. Setelah terlihat jelas adanya perbedaan terang dan gelap pembacaan
dilakukan beberapa kali dan setiap pembacaan hanya boleh dilakukan apabila suhu
dalam keadaan stabil.
c. Angka rata-rata dari pembacaan
adalah indeks bias bahan.
4. Mengukur
Kadar CO2
a.
Ambil
sampel sebanyak 50 ml langsung di badan air dengan menggunakan gelas ukur 50
ml, ambil dengan hati-hati tanpa terjadi gelembung udara, kemudian masukkan ke
dalam labu erlenmayer secara perlahan-lahan
b.
Tambahkan
2-3 tetes indikator pp
c.
Segera
titrasi dengan Na2CO3 0,025 N menggunakan pipet 1 ml
hingga warna merah muda (pink) yang stabil terbentuk
d.
Catat
jumlah titran (ml) yang terpakai
e.
Hitung kadar CO2 menggunakan rumus
berikut:
Kadar CO2 bebas (mg/l)
=
Keterangan :
B :Banyaknya tiran (ml)
N :Normalitas tiran (0,021 N)
V : Volume sampel (50 ml)
5. Mengukur
DO
a.
Ambil
contoh air dengan menggunakan botol Winkler langsung di badan air, jangan sampai
terjadi gelembung
b.
Tambahkan
Reagen 1 (MnSO4) sebanyak 5 tetes ke dalam botol Winkler
c.
Tambahkan
Reagen 2 (NaOH + KI) sebanyak 5 tetes kedalam botol Winkler, tutup botol
Winkler dengan hati-hati jangan sampai ada gelembung udaranya
d.
Kocok
botol tersebut dengan jalan membolak-balik botol hingga teraduk dengan sempurna
e.
Tunggu
atau diamkan beberapa saat, hingga terjadi endapan
f.
Buka
tutup botol dengan hati-hati, tambahkan 10 tetes reagen 3 (H2SO4
pekat) dan tutup kembali (jangan ada gelembung udara)
g.
Kocok
lagi hingga endapan yang ada larut dengan sempurna
h.
Ambil
larutan tersebut sebanyak 50 ml dengan menggunakan gelas ukur 50 ml kemudian
masukkan ke dalam erlenmeyer
i.
Tambahkan
Reagen 4 (amylum) sebanyak 3 tetes
j.
Kemudian
titrasi dengan Na2S2O3 0,025 N, hingga
warnanya menjadi bening (warna berubah seperti warna semula)
k.
Hitunglah kadar DO dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
Oksigen terlarut
(mg/l)=
Keterangan:
V= volume botol Winkler
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Keadaan
Lokasi Praktikum
Lokasi
pelaksanaan praktikum berada di kampong Benanga lokasinya sedikit jauh dari
perkotaan, untuk perjalanan kira-kira memakan waktu sekitar 1 jam dari kota
suasana di daerah ini masih begitu asri dan sejuk dan masih kaya
tumbuhan-tumbuhan seperti pohon, semak belukar, ilalang, karena mayoritas dari
penduduk Benanga memanfaatkan lahan pekarangan belakang rumah, samping rumah
sebagi lahan perkebunan maka ketika memasuki desa ini, disuguhi berbagai macam
jenis tumbuhan, mulai dari jagung, padi, sayur mayur, cabai, tomat, terong dan
masih banyak lagi. Selain itu, beberapa dari masyarakat juga melakukan kegiatan
ternak mulai dari ternak sapi, ayam dan budidaya ikan. Budidaya yang dilakukan
yaitu dengan menggunakan teknik anco, dan keramba apung serta kolam-kolam
buatan.
Lokasi
yang digunakan untuk budidaya merupakan bekas tambang, lokasi budidaya lebih
nirip seperti waduk atau danau dan ditumbuhi tanaman air seperti eceng gondong,
dan kayu abu, biasanya kayu abu
dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Ikan-ikan yang dibudidayakan antara lain ikan
mas, ikan nila, ikan pepuyu dan lele. Namun dari informasi yang praktikan dapat
lele yang berumur 2 bulan biasanya terkena cacar akibat tercemar oleh pestisida
dari hasil kegiatan perkebunan dan biasanya karena akibat lama tidak hujan juga
mengakibatkan ikan lele terkena cacar. Benih ikan nila biasanya di beli,
sedangkan ikan lele diperoleh dari pemijahan sendiri yang dilakukan oleh
pembudidaya. Pakan alami yang digunakan untuk benih lele yaitu cacing ketika
benih berumur dibawah 10 hari. Ketika menginjak umur 15 hari diberi pakan F500
dan umur 20 hari F1000.
Selain digunakan untuk kegiatan budidaya,
waduk atau danau juga digunakan untuk kegiatan PON (Pekan Olahraga Nasional)
yaitu lomba dayung. Dan pada saat digunakan untuk PON, keramba-keramba yang
berada dibadan perairan diletakkan ketepi danau.
B.
PH,
Suhu, Kecerahan
Dari pengamatan yang
telah terlaksana, didapatkan perhitungan kadar CO2 sebagai berikut:
|
No
|
Pengamatan
|
Hasil Pengamatan
|
|
1.
|
PH
|
5,55
|
|
2.
|
Suhu
|
29,10C – 29,20C
|
|
3.
|
Kecerahan
|
120 cm
|
|
4.
|
Kadar Garam (Salinitas)
|
0,1 ‰
|
Tabel 1. Hasil
pengamatan pengukuran PH, Suhu, Kecerahan, dan Salinitas.
Dari hasil Pengamatan diatas dapat
disimpulkan bahwa kualitas air yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan
budidaya merupakan bekas tambang atau sudah tercemari oleh kegiatan tambang
karena pada pengukuran PH menunjukkan keasaman yang terdapat di perairan
tersebut, hanya beberapa jenis ikan saja yang mampu hidup pada keasaman PH 5,55
dari kegiatan budidaya di daerah Benanga, ikan yang dibudidayakan antara lain
ikan nila, ikan mas, dan lele. Namun setelah melalui pengamatan ikan lele tidak
begitu tahan dengan keadaan lingkungan tersebut karena pada saat musim hujan
ikan lele yang dibudidayakan seperti terkena penyakit cacar.
Dari data diatas juga diperoleh
kecerahan yang mencapai angka 120 cm, ini menunjukkan bahwa air yang berada di
daerah Benanga jernih dan jika melihat dari keadaan plankton diperairan
tersebut dapat dikatakan keadaan plankton sedikit.Sedangkan pada pengamatan
kadar garam berada pada angka 0,1 ini menunjukkan bahwa air mengandung sedikit
kadar garam dan suhu mencapai angka 29,10C – 29,20C,
artinya suhu termasuk dalam kriteria suhu stabil atau ideal karena batas suhu
yang ideal untuk kegiatan budidaya berkisar antara 25-300 C.
C.
Kadar
CO2
Dari pengamatan yang
telah terlaksana, didapatkan perhitungan kadar CO2 sebagai berikut:
Diketahui:
B = 1,26 ml
N = 0,021 N
V = 50 ml
Kadar CO2
bebas = 
=
=
= 11,6424 mg/l
D.
Kadar
DO
Dari pengamatan yang
telah terlaksana, didapatkan perhitungan kadar DO sebagai berikut:
Diketahui:
V =
62 ml
Ml Na2S2O3 =
0,24 ml
N Na2S2O3 = 0,025 N
Oksigen terlarut =

=
=
=
=
=0.9896 mg/l
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Dari
pengamatan dan data yang telah didapat, dapat disimpulkan bahwa kondisi
lingkungan yang berada di kampong Benanga tidak begitu baik digunakan untuk
kegiatan budidaya, karena kadar air yang terlalu asam dan masih terdapat sisa
dari hasil pertambangan dikhawatirkan dapat mengakibatkan penyakit bagi
konsumen, walaupun tidak mematikan secara langsung tetapi lambat laun sisa dari
hasil pertambangan bisa mengendap dan menumpuk didalam tubuh dan menjadi sumber
bagi penyakit-penyakit yang mematikan.
B. Saran
Saran
dari kelompok kami sebaiknya dalam pelaksanaan pembudidayaan ikan, pembudidaya
memperhatikan lingkungan dan kegiatan sekitar agar memperoleh hasil budidaya
yang maksimal dan bermutu serta berkualitas tinggi sehingga memiliki nilai
ekonomis tinggi.
Sebaiknya
pemerintah juga ikut turun tangan dalam membantu para pembudidaya agar
pelaksanaan budidaya berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Zakiyyah,
Cut Cahaya. “Pengertian Budidaya Menurut Para Ahli”. 11 Desember 2015. http://rifanasri90.blogspot.co.id/2012/07/pengertian-definisi-arti-kata-budidaya.html
Geografi.
“Lingkungan Hidup”. 13 Desember 2015. http://geografi.geografi.blogspot.co.id/2011/01/pengertian-lingkungan-hidup-menurut.html
Ditjen,
UPT. “Pengembangan Budidaya Berbasis Lingkungan”. 13 Desember 2015. http://www.djpb.kkp.go.id/index.php/mobile/arsip/c/321/PENGEMBANGAN-PERIKANAN-BUDIDAYA-BERBASIS-LINGKUNGAN/?category_id=
Chandra,
Agus. “Etika Budidaya Perairan”. 11 Desember 2015. http://p2mkp.com/etika-budidaya-perairan/
LAMPIRAN











No comments:
Post a Comment